Incar Berita Jakarta - Meningkatnya ketimpangan membuat kesenjangan di Indonesia semakin lebar dari yang pernah ada sebelumnya. Pasalnya, kesenjangan standar hidup tersebut terpusat kekayaannya pada segelintir orang saja. Pernyataan itu dikemukakan oleh Tim Proverty Global Practice Bank Dunia.
Vivi Alatas dan Tim yang dipimpinnya, Leader Economist GPVDR, mengatakan meski pertumbuhan ekonomi berkelanjutan selama 15 tahun di Indonesia telah membantu mengurangi kemiskinan dan menciptakan kelas menengah yang berkembang, tapi ketimpangan tersebut belum dinikmati secara merata oleh warga Indonesia.
"Dalam pertumbuhan selama satu dasawarsa terakhir hanya menguntungkan 20 persen warga terkaya, sementara 80 persen populasi sisanya sekira 205 juta orang masih tertinggal di belakang. Artinya, meningkatnya kesenjangan standar hidup dan semakin terpusatnya kekayaan di tangan segelintir orang," kata Vivi, dalam acara Akhiri Ketimpangan untuk Indonesia (AKU Indonesia) di Djakarta Theatre, Jakarta, Selasa (8/12/2015) seperti dikutip dari Okezone.
Jika dibandingkan dari sebagian negara tetangga di Asia Timur, tingkat ketimpangan Indonesia relatif lebih tinggi dan naik lebih cepat. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan konkret untuk mengatasi ketimpangan yang menimbulkan ketidakadilan.
Ia menambahkan, saat ini, kebanyakan warga Indonesia kini menyadari isu ini dan meyakini bahwa pemerintah harus mengambil tindakan.
"Karena hal ini juga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan upaya pengentasan kemiskinan serta meningkatkan risiko konflik," jelasnya.